YESUS KRISTUS, HUKUM TAURAT DAN KASIH
Matius 22:34-40
34 Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35 dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36 "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?"
37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Menarik untuk menemukan fakta bahwa Yesus Kristus mengajarkan kita kebenaran-kebenaran kerajaan Allah kepada kita bukan hanya melalui kotbah tetapi juga melalui pertanyaan-pertanyaan jebakan yang diberikan para imam, ahli Taurat, orang Farisi, orang Saduki dan orang Herodian.
Dan justru topik-topik yang mereka tanyakan sebagai jebakan itu adalah topik-topik yang juga diperdebatkan banyak orang Kristen di masa kini. Allah dalam hikmatNya yang luar biasa mengijinkan manusia-manusia yang terlalu pintar, terlalu religius tetapi munafik untuk mencobai Dia dalam rangka justru untuk pembelajaran bagi kita menghadapi perdebatan teologis dan juga menghadapi penyesatan di akhir zaman ini.
Topik membayar pajak, topik kebangkitan orang mati, topik perceraian, topik tentang sorga dan firdaus, dan kita masuk ke dalam topik berikutnya soal Hukum Taurat dan Kasih yang juga menjadi perdebatan di masa sekarang.
Saudaraku yang dikasihi Tuhan, dalam menafsirkan firman Tuhan selain menerapkan prinsip exegesis, kita juga harus menerapkan prinsip keseimbangan (balance) dengan berpegang pada ajaran Tuhan Yesus, bahwa yang satu harus dilakukan, yang lain jangan diabaikan, dua-duanya harus jalan.
Matius 23:23b
Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.
Tuhan menciptakan kita dengan tubuh dan wajah yang simetris, ada tangan kanan, ada juga tangan kiri, begitu juga kaki, mata dan telinga. Jika tubuh kita tidak simetris kita akan kehilangan keseimbangan dan jika tidak ada yang menopang kita akan jatuh. Burung yang terbang dengan satu sayap pasti akan jatuh. Ketika seorang Kristen menafsirkan Alkitab atau mendengar khotbah yang ekstrim yang hanya menekankan satu hal dan mengabaikan hal yang lain, dia suatu saat pasti akan jatuh.
Selain itu keseimbangan perlu untuk estetika atau keindahan. Wajah atau tubuh yang tidak simetris tidak elok dipandang. Bahkan bisa menakutkan bagi orang yang melihatnya, begitu juga dengan kotbah yang ekstrim yang tidak seimbang, pasti akan menghasilkan buah yang tidak enak dipandang.
Kalau kita membaca Alkitab hanya berpatokan pada satu ayat saja atau kita mencari ayat-ayat tertentu saja untuk mendukung doktrin kita, maka kita cenderung menjadi tidak seimbang. Kita perlu mencari ayat-ayat lain yang melihat topik itu dari sisi berbeda atau kita perlu saudara yang lain dalam Tubuh Kristus untuk menyeimbangkannya dan kita harus terbuka untuk itu, kalau tidak kita bisa tersesat. Tidak perlu kita sombong dan merasa tahu semua. Sebenarnya Tuhan membuat kita tidak serba tahu supaya kita tetap butuh saudara yang lain. Membaca tulisan-tulisan bapak-bapak Gereja di masa lampau juga bagus.
Mari kita kembali ke topik kita soal hukum Taurat.
Orang-orang Farisi mendengar bahwa orang-orang Saduki bungkam. Salah seorang ahli Taurat dari antara mereka datang dan bertanya kepada Yesus: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Dia menyangka Yesus akan mengambil salah satu perintah dari hukum Taurat dan menjawab dengan itu. Tetapi Yesus, pribadi yang adil dan seimbang ini tahu bahwa kesepuluh perintah Hukum Taurat itu sama pentingnya. Kebanyakan pengkhotbah ekstrim cenderung akan memilih satu atau dua perintah favoritnya di mana dia melakukannya tetapi sebenarnya dia gagal melakukan yang lain. Teladanilah Kristus yang menganggap semua perintah Allah sama-sama penting.
Inilah jawaban Tuhan Yesus:
37 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40 Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi."
Jawaban Tuhan Yesus ini sebenarnya berasal dari kitab Ulangan:
Ulangan 6:4-5
4 Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
5 Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.
dan dari kitab Imamat:
Imamat 19:18
Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.
Dan ahli Taurat itu tahu itu dan dia tidak bisa membantah.
Dari mana asal ke-10 Perintah Allah itu (Keluaran 20:1-17)? Mari kita telusuri.
Allah adalah Kasih
1 Yohanes 4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
Allah adalah Kasih artinya seluruh kepenuhan Allah adalah kasih yang melibatkan motif dan tindakannya semua bertujuan kasih. Kalau kita menyelidiki hati Allah maka yang kita temukan hanya kasih semata-mata meskipun kita melihat banyak penderitaan manusia di dunia ini. Dan Allah menciptakan manusia pertama Adam dan Hawa segambar dengan rupa Allah supaya manusia bisa menjadi anak-anakNya yang dikasihiNya. Tetapi untuk mewujudkan kasih itu, di mana di dalam kasih ada kemerdekaan dan tidak ada paksaan, maka Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia. Tidak ada orang tua yang ingin memiliki anak seperti robot yang bisa diprogram. Meskipun orang tua itu beresiko memiliki anak yang nakal sekalipun, dia tetap menyayangi anaknya. Begitupun Allah dengan kita. Tetapi Adam dan Hawa akhirnya memberontak dengan memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan. Sejak itu maut masuk ke dalam diri manusia sehingga manusia malu dan takut lalu menjauh dari Allah.
Ketika manusia bertambah banyak dan mereka semakin jahat dan melakukan banyak kekejian maka hati Allah merasa pilu karena melihat manusia itu sudah sangat rusak dan jauh sekali dari citra Allah. Itu sebab Allah memusnahkan manusia dengan mendatangkan air bah yang memusnahkan seluruh yang hidup di muka bumi kecuali Nuh dan keluarganya serta segala makhluk yang ada di bahtera itu. Tetapi manusia tetap melawan Allah.
Lalu Allah membangkitkan suatu bangsa sebagai wujud janji Allah kepada Abraham yaitu bangsa Israel, yang dari bangsa inilah nanti Allah akan mengirimkan Mesias, Juruselamat dunia. Tetapi bangsa Israel pun setelah keluar dari perbudakan Mesir terus berbuat dosa dan menyembah berhala sehingga Tuhan menurunkan 10 Perintah Allah sebagai hukum yang membatasi dan melindungi manusia dari segala perbuatan jahat. Manusia yang memiliki kehendak bebas ini tidak boleh berbuat semena-mena atau sesuka hati yang bisa mendatangkan murka Allah atas diriNya dan yang bisa menyakiti sesamanya, itu sebabnya Allah memberikan hukum Taurat khususnya 10 Perintah Allah bagi manusia. Apa yang dituntut oleh hukum Taurat? Yaitu Kasih. Kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Kasih tidak akan berbuat jahat kepada siapapun. Kasih itulah yang dituntut hukum Taurat dari diri kita.
Tetapi manusia, yang di dalam tubuhnya sudah teracuni oleh maut, sehingga di dalam tubuh manusia bekerja hukum dosa dan hukum maut, maka manusia tidak bisa berdaya untuk melakukan hukum Taurat, karena daging manusia menginginkan dosa dan tidak berdaya melawan dosa. Karena itu harus ada solusi terhadap dilema ini.
Disebut hukum karena sifatnya sama halnya dengan hukum gravitasi. Jika saudara kehilangan keseimbangan pasti saudara jatuh. Mengapa segala sesuatu yang tidak ditopang akan jatuh ke bawah bumi? Karena ada gaya tarik bumi, yaitu sebuah hukum alam yang mengikat setiap orang, setiap makhluk, setiap benda, tidak peduli mereka tahu atau tidak. Begitu juga hukum Taurat, hukum dosa dan hukum maut itu mengikat setiap orang tanpa kecuali, tidak peduli suku, ras dan agamanya, semua sama. Tidak ada seorangpun yang terlepas dari hukum itu.
Semua hukum negara di dunia inipun diikat oleh hukum Taurat setidaknya diikat oleh 4 perintah yaitu jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri dan jangan berdusta.
Karena ketidakberdayaan manusia di mana hukum Taurat bekerja menuntut manusia dari luar diri manusia dan hukum dosa dan hukum maut bekerja aktif di dalam tubuh manusia sehingga manusia mengalami dilema, maka Allah memberikan solusi bagi manusia, solusi yang sudah diantisipasi olehnya sejak semula ketika Dia menciptakan manusia dengan memberikan kehendak bebas yaitu Allah yang adalah Kasih, karena KasihNya yang besar bagi dunia ini telah mengutus AnakNya Yesus Kristus di dalam daging sama seperti kita, Dia telah menghukum dosa di dalam dagingNya di kayu salib supaya kita tidak lagi dihukum dan juga supaya kita tidak lagi hidup di dalam daging tetapi di dalam Roh.
Tetapi mengapa anak-anak Tuhan masih jatuh ke dalam dosa? Tergantung untuk siapa dia hidup.
Hidup untuk Hukum Taurat atau untuk Yesus?
Hukum Taurat terbukti tidak bisa menyelamatkan manusia atau melepaskan manusia dari hukum dosa dan hukum maut, karena hukum Taurat hanyalah peraturan-peraturan tertulis yang sifatnya mati dan mematikan. Hukum Taurat hanyalah benda mati, meskipun kedua loh batu di tangan Musa itu ditulis oleh tangan Allah, Hukum Taurat adalah benda mati. Dan peraturan yang tertulis di dalam hukum Taurat itu mematikan. Kenapa dikatakan mematikan? Karena kalau kita berusaha melakukannya maka ada hukum lain yang akan muncul bekerja di dalam tubuh kita yaitu hukum dosa dan hukum maut. Semakin kita berjuang keras untuk hidup kudus sesuai hukum Taurat maka semakin keras juga juga hukum dosa dan hukum maut bekerja dalam tubuh kita. Itu sebabnya justru hukum Taurat semakin menjerat seseorang ke dalam dosa.
Roma 7:21-23
21 Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku.
22 Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah,
23 tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.
Memang dosa itu bisa saja tidak kelihatan, tetapi hukum ke-10 itu, yaitu jangan menginginkan, akan membuktikan kita telah berdosa karena kita sudah menginginkan apa yang bukan hak kita di dalam hati kita. Perintah ke-10 menjerat kita. Kita tetap berdosa. Itulah yang terjadi pada orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, mereka memang terlihat bermoral padahal di dalam hati mereka banyak keinginan jahat dan ketamakan. Itu sebabnya hati mereka seperti sarang ular beludak.
Rasul Paulus menulis dalam Roma 7:
Roma 7:24-25
24 Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?
25 Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.
Siapakah yang bisa melepaskan kita dari tubuh maut ini? Lepas dari dilema ini? Jawabnya hanya Yesus Kristus yang bisa.
Hukum Taurat itu mati. Yesus Kristus itu hidup. Jika saudara mau ikut hukum Taurat saudara akan mati. Jika saudara ikut Yesus Kristus saudara akan hidup.
Kalau begitu apa fungsi hukum Taurat?
Hukum Taurat itu kudus dan rohani, tetapi hukum Taurat tidak bisa menyelamatkan saudara dari dosa, hanya Yesus yang bisa.
Hukum Taurat diberikan untuk menyatakan dosa secara hitam putih, supaya dosa tidak jadi abu-abu tergantung interprestasi manusia. Jadi tidak ada seorangpun yang bisa berkelit bahwa dia sudah berdosa.
Roma 7:7 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini!"
Hukum Taurat juga berfungsi untuk membuktikan bahwa kita tidak berdaya melawan dosa dan bahwa kita butuh Juruselamat yang bisa melepaskan kita dari dosa-dosa kita. Itu sebab oleh Hukum Taurat kita dibawa kepada Yesus Kristus, dan sesudah kita menerima Yesus Kristus maka fungsi Hukum Taurat selesai, kita tidak lagi hidup untuk Hukum Taurat tetapi untuk Yesus.
Galatia 3:24-25
24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
Hukum Taurat berfungsi untuk menyadarkan orang-orang berdosa yang belum bertobat akan keadaan dirinya dalam murka Allah sehingga mereka datang kepada Allah memohon anugerah pengampunanNya. Tanpa hukum Taurat, pemberitaan Injil menjadi murahan atau dilecehkan, karena orang datang kepada Kristus tanpa penyesalan akan dosa mereka.
1 Timotius 1:8-9
8 Kita tahu bahwa hukum Taurat itu baik kalau tepat digunakan,
9 yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,
Fungsi hukum Taurat berikutnya, sesudah kita tinggal di dalam Kristus sekarang, jika ditafsirkan secara roh atau rohaniah, adalah supaya kita semakin mengenal dan mengasihi Tuhan Yesus Kristus. Tuhan Yesus akan membuka selubung yang menghalangi mata rohani kita melihat kemuliaanNya di dalam Hukum Taurat sehingga kita bisa mengenal Dia lebih dalam lagi yang membawa kita kepada kedewasaan rohani.
2 Korintus 3:15-18
15 Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka.
16 Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.
17 Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.
18 Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.
Mazmur 119:165
Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.
Dibatalkan, Digenapi dan Diteguhkan?
Alkitab, khususnya Perjanjian Baru menuliskan bahwa Hukum Taurat sudah dibatalkan, Hukum Taurat sudah digenapi, dan Hukum Taurat diteguhkan.
Secara akal sehat, apa yang sudah dibatalkan tidak akan bisa digenapi atau diteguhkan. Apa yang sudah digenapi tidak akan bisa dibatalkan atau diteguhkan. Apa yang diteguhkan tidak akan bisa dibatalkan atau digenapi. Apakah ini suatu kontradiksi dalam Alkitab? TIDAK. Kalau ketiga-tiganya harus benar maka kita harus melihat konteks dari pernyataan tersebut.
Ada orang-orang yang memukul rata semuanya tanpa melihat konteks. Kita tahu Hukum Taurat tidak terdiri dari 10 Perintah Allah saja, tetapi masih ada hukum-hukum Musa lainnya seperti hukum sipil dan hukum ibadah. Karena itu kita harus jeli membaca Alkitab, jangan serabutan. Kesalahan pemahaman akan membuat seseorang tetap di dalam dosanya.
Hukum Taurat sudah dibatalkan? Apa maksudnya?
Mari kita lihat:
Efesus 2:15
sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,
Yesus telah membatalkan hukum Taurat di kayu salib ...... untuk....
Banyak orang mengabaikan kalimat sesudah kata untuk itu. Untuk apa?
"untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,"
Siapa itu keduanya menjadi satu? Bangsa Israel dan bangsa-bangsa lain (Gentiles).
Baca perikopnya lebih lengkap:
Efesus 2:11-14
11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu — sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya "sunat", yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —
12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.
13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.
14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,
Kita ini bukanlah orang Yahudi, kita tidak mewarisi janji-janji Allah dan peraturan Allah seperti kepada orang Israel, seperti halnya sunat, hari sabat, korban-korban, hari raya, dsb, tetapi Allah ingin kita dipersatukan bersama bangsa Israel menjadi umatNya di dalam Kristus dengan cara merobohkan tembok pemisah yaitu segala sesuatu dalam hukum Taurat yang memisahkan kita dari bangsa Israel yaitu sunat, hari sabat, korban-korban dan sebagainya. Disebutkan bahwa Yesus merobohkan tembok pemisah itu dengan cara membatalkan semua peraturan-peraturan lahiriah di dalam Hukum Taurat sehingga itu tidak berlaku lagi supaya kita dipersatukan dengan saudara-saudara kita dari bangsa Israel mulai dari para rasul, gereja mula-mula dan orang Kristen Yahudi di masa sekarang.
Itu yang dimaksud dari ayat tersebut jika melihat konteksnya. Kalau membaca Alkitab, bacalah dengan konteksnya juga dengan hati-hati, jangan asal comot. Saudara bisa memeriksa ayat-ayat yang lain dalam surat rasul Paulus untuk menangkap apa yang sebenarnya rasul Paulus maksudkan di situ.
Hukum Taurat Digenapi? Apa maksudnya?
Matius 5:17
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.
Dari ayat di atas jelas bahwa Yesus datang bukan untuk meniadakan Hukum Taurat. Sayangnya ada orang-orang yang berusaha meniadakannya.
Roma 10:4
Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.
Apakah Yesus membatalkan Hukum Taurat berarti sama dengan meniadakannya? Kelihatannya kontradiksi apabila kita tidak memahami siapa Yesus Kristus sebenarnya. Padahal Yesus tidak meniadakan tetapi menggenapinya. Di dalam Hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari Keselamatan kita (Ibrani 10:1) sedangkan kegenapannya adalah Yesus Kristus. Ada banyak peraturan korban-korban keselamatan, korban pengampunan dosa, dan berbagai korban lain di hukum Taurat, itu adalah bayang-bayang dari pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib. Yesus Kristus adalah kegenapan dari semua itu. Kita tidak perlu lagi mengorbankan binatang apapun untuk pengampunan dosa, korban Yesus Kristus dan darahNya di kayu salib sudah cukup untuk keselamatan kita. Bukan hanya soal korban-korban binatang saja, berbagai peralatan ibadah dan hari-hari raya pun adalah bayang-bayang dari Kristus. Juga hukuman dan kutuk yang ada dalam Hukum Taurat juga telah ditanggung oleh Tuhan Yesus Kristus sehingga kita bisa dibenarkan oleh iman kita. Secara lahiriah atau secara daging Tuhan Yesus telah membatalkannya di kayu salib tetapi secara rohaniah atau secara roh Tuhan Yesus telah menggenapinya di dalam diri kita.
Roma 8:4 supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.
Hukum Taurat Diteguhkan? Apa maksudnya?
Roma 3:31
Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.
Rasul Paulus menegaskan bahwa para rasul tidak membatalkan Hukum Taurat melainkan meneguhkannya. Ini menyangkut soal moral yang menjadi standard Allah. Meskipun kita sekarang dibenarkan karena iman, tetapi dosa tetap harus disingkirkan dari hidup kita karena dosa merusak persekutuan kita dengan Allah.
Apakah Tuhan Yesus Kristus juga meneguhkan Hukum Taurat? Ya, yaitu kesepuluh Perintah Allah. Tuhan Yesus justru meninggikan standardnya.
Jika kita sekarang tidak lagi hidup untuk Hukum Taurat tetapi untuk Kristus apakah berarti kita tidak perlu lagi melakukan hukum Allah? Kita memang tidak lagi menuruti perintah Hukum Taurat karena kita di dalam Kristus kita sekarang hidup dalam hukum yang baru yaitu hukum Kasih tetapi Kasih yang dimaksud Tuhan Yesus di sini bukanlah kasih yang abstrak tetapi kasih yang kongkrit, bukan sekedar perasaan kasih atau ucapan kasih tetapi perbuatan kasih.
Tuntutan Hukum Taurat adalah Kasih, karena Kasih adalah kegenapan Hukum Taurat. Tetapi Hukum Taurat tidak mampu mengubah orang dari dalam dirinya tetapi menuntut dari luar dirinya. Karena Hukum Taurat tidak mampu mengubah orang dari dalam, maka Tuhan Yesus merintis jalan bagi kita untuk mengubah diri kita mulai dari dalam. Pertama-tama Tuhan harus mengadakan pendamaian dulu bagi kita dengan mengampuni dosa-dosa kita melalui pengorbananNya di kayu salib. Dan Tuhan juga di dalam Kotbah di bukit telah memberikan perintah-perintahNya yang jauh lebih tinggi dari hukum Taurat.
Contoh:
Matius 5:27-28
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
Dari ucapan Tuhan Yesus dalam kotbah di bukit ini kita menemukan standard yang jauh lebih tinggi dari Hukum Taurat. Kalau hukum Taurat hanya berbicara soal berzinah yang terjadi secara fisik atau lahiriah, Tuhan Yesus mengubah standard berzinah yaitu dimulai dari berzinah dalam hati atau batiniah. Artinya Hukum Kristus soal moral jauh lebih tinggi dari hukum Taurat.
Dan ini bukan hanya perintah Hukum Taurat yang ke-7 jangan berzinah saja yang ditinggikan standardnya oleh Tuhan Yesus, tetapi kesepuluh Perintah Allah itu juga dinaikkan standardnya. (Ini tidak cukup ruang untuk membahasnya.)
Itulah artinya Tuhan Yesus justru meneguhkan Hukum Taurat dengan meninggikan standardnya.
Kita mustahil bisa lepas dari dosa kalau mengikuti hukum Taurat secara lahiriah. Tetapi jika kita memandang dosa sebagai masalah yang batiniah yang terjadi di hati atau di dalam diri kita, barulah terbuka pintu untuk kemenangan atas dosa. Itu sebabnya semua perintah-perintah Kristus berfokus pada hal-hal rohaniah atau batiniah, hal-hal yang tersembunyi dalam hati kita.
Kalau kita masih sibuk mengurusi dosa lahiriah, kita akan menjadi orang yang munafik. Tetapi jika kita membereskan dosa-dosa tersembunyi dalam hati kita maka kita akan menjadi orang yang dikuduskan dalam kesalehan yang sejati.
Kekudusan Sejati
Kekudusan sejati akan mencapai puncaknya pada kasih.
Kekudusan palsu akan mencapai puncaknya pada kemunafikan.
Kekudusan sejati terlihat pada Tuhan Yesus Kristus yang penuh kasih.
Kekudusan palsu terlihat pada orang-orang Farisi yang penuh kemunafikan.
Kekudusan sejati selalu seimbang antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama.
Kekudusan palsu berusaha terlihat oleh orang lain sibuk mengasihi Allah tetapi di dalam hatinya tidak ada kasih bagi sesamanya.
Semakin kudus seorang Kristen maka hidupnya akan semakin penuh kasih. Hidupnya akan seimbang antara kebenaran dan kasih karunia.
In His Grace
GDS
Comments
Post a Comment