FARISI-7# MEREKA MENUTUP PINTU SORGA DAN MERINTANGI ORANG MASUK KERAJAAN SORGA

Matius 23:13  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Kali ini Tuhan Yesus mendahului kata-katanya dengan kata: "Celakalah". Tuhan mengucapkan ini dengan dukacita yang sangat dalam. Seperti seorang ayah yang menemukan anaknya ternyata kecanduan narkoba, dia marah tapi berdukacita, campur aduk. Seorang ayah akan menangis jika melihat anaknya seperti itu dan berkata:"Malang sekali kamu nak. Mengapa kamu celaka seperti ini nak?" Memang sebenarnya orang Farisi dan ahli-ahli Taurat sudah kecanduan kemunafikan yang membinasakan hidup mereka dalam kekekalan, menyeret orang lain turut dalam kebinasaan mereka dan membahayakan jiwa orang yang tidak masuk kelompok mereka. Tuhan Yesus ingin mereka sadar, ingin mereka berdukacita untuk kondisi mereka yang sudah overdosis agama.

Apa yang dilakukan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini?

Dalam ayat ini Tuhan Yesus menyebut ada 2 kejahatan mereka khusus terkait dengan pintu-pintu Kerajaan Sorga:

1. Mereka menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga

2. Mereka merintangi orang masuk Kerajaan Sorga

Mari kita lihat seperti apa ini. 

1. Menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga

Pintu Kerajaan Sorga adalah Pertobatan

Matius 3:2
"Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" 

Kerajaan Sorga sudah dekat artinya sudah di ambang pintu. Bertobatlah, maka kamu akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Matius 18:3
lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 

Di kitab Lukas disebut kunci pengetahuan:

Lukas 11:52  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu telah mengambil kunci pengetahuan; kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke dalam kamu halang-halangi."

Apa itu kunci pengetahuan? Takut akan Tuhan.

Amsal 1:7  Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. 

Hati yang bertobat adalah hati yang takut akan Tuhan. Pertobatan dan Takut akan Tuhan seperti saudara kembar.

Kita lanjutkan. 

Bagaimana cara mereka menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga? Dengan menghapus doktrin pertobatan dan dari kamus teologia mereka. 

Jika Pertobatan sudah dihapus dari kamus teologia seorang pengkhotbah maka si pengkotbah tidak akan pernah lagi mengajarkannya. Dia menganggap itu tidak penting atau tidak perlu. Akibatnya banyak orang yang bingung di mana pintu Kerajaan Sorga karena si pengkotbah sudah menutupnya. 

Padahal Injil adalah berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa:

Lukas 24:47
dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

Bertobat itu sederhana, yaitu datang kepada Yesus Juruselamat dengan berkata:"Tuhan, aku berdosa, ampunilah aku". 

Sama sederhananya dengan orang sakit yang berobat ke dokter dengan berkata:"Dokter, aku sakit, tolonglah aku". 

Jika ada pasien datang ke dokter dan dokter bertanya:"Bapak ada keluhan apa?" Jika si pasien menjawab:"Tidak ada dokter, saya baik-baik saja". Saya yakin dokter itu akan berkata:"Bapak pulang saja. Bapak tidak perlu dokter"

Sama seperti itu, jika orang datang kepada Yesus dan tidak mengakui dirinya orang berdosa, orang itu tidak membutuhkan Yesus Juruselamat. 

Daud cepat bertobat dan mengaku dosanya ketika ditegur nabi Natan dengan tidak peduli jabatannya sebagai raja terancam:

2 Samuel 12:13  Lalu berkatalah Daud kepada Natan: "Aku sudah berdosa kepada TUHAN." Dan Natan berkata kepada Daud: "TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 

 Banyak orang tidak mau bertobat karena mereka takut reputasi mereka dan jabatan mereka terancam. Padahal jika orang bertobat justru orang itu akan semakin disayangi. Iblis telah menipu banyak orang.

Amsal 28:13
Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.

Jika orang menolak untuk bertobat ada dua kemungkinan penyebabnya: 

- Orang itu takut kehilangan jabatannya

- Orang itu takut kehilangan dosa yang sangat dicintainya itu.

Saudaraku memang bertobat menuntut dari kita kerelaan hati dan siap sedia untuk apapun resikonya. Jika kita bertobat kita tidak butuh mediator atau perantara yang lain kepada Allah kecuali Yesus Kristus. Tetapi untuk berdamai dengan manusia kita bisa langsung minta maaf tanpa mediator atau jika pelanggaran kita sangat berat kita bisa meminta bantuan mediasi orang lain seperti para pemimpin yang rohani untuk berdamai dengan seseorang. Misalkan suami yang selingkuh tapi ingin bertobat dan mengaku salah pada isterinya, bisa saja dia butuh bantuan mediasi pemimpin rohani untuk mengakui itu dan berdamai dengan isterinya. Yang penting adalah dosa harus disingkirkan dari hidup kita. Jika kita pemimpin gereja, ambillah waktu untuk memulihkan diri Saudara dan keluarga saudara dengan melepaskan jabatan saudara. Isteri dan anak-anak Saudara lebih penting dari jabatan saudara. Melayani Tuhan tidak harus jadi pengkotbah. Tuhan akan mengasihani setiap orang yang bertobat. Dia akan membela mereka.

Roma 8:33-34

33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?

34 Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?

Ada gereja-gereja yang tidak lagi mengajarkan pentingnya pertobatan kepada jemaatnya. Mulai dari gereja tradisi hingga gereja karismatik. Kita sangat sedih dan berdukacita untuk hal ini. Mereka mengajarkan percaya tanpa Pertobatan. Mereka mengajarkan kasih karunia tanpa pertobatan.

Apa itu pertobatan? Pertobatan adalah berubah pikiran atau berubah haluan hidup yang selama ini hidup untuk dosa sekarang berbalik dari dosa kepada Allah untuk hidup bagi Allah. Apa itu dosa? Dosa adalah pelanggaran terhadap hukum Allah dan dosa juga adalah berusaha hidup saleh mengandalkan kekuatan sendiri. 

Mengandalkan kekuatan sendiri terjadi pada orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka mengejar kekudusan dengan kekuatan mereka sendiri. Mereka berusaha hidup saleh dengan kekuatan sendiri. Kitab Yeremia telah menuliskan bahwa Tuhan sendiri mengutuk setiap orang yang berusaha hidup saleh dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Yeremia 17:5  Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! 

Ketika kita bertobat kita bukan hanya mengakui atau menyesali dosa kita, tetapi kita juga berhenti mengandalkan kekuatan kita sendiri, kita berharap pada pertolongan Tuhan yaitu kasih karunia Tuhan Yesus Kristus.

Tanpa Pertobatan semua kesalehan atau kekudusan seseorang sebenarnya adalah palsu. Sekalipun dia menyatakan iman keselamatannya dan sekalipun dia mengatakan beroleh kasih karunia sehingga hidup kudus, itu tetap kesalehan palsu. Mengapa palsu? Karena kesalehan tanpa Pertobatan adalah kesalehan orang Farisi. Ujung-ujungnya tetap perbuatan baik manusia yang dimegahkan.

Yesus katakan:

Matius 5:20
Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Semua orang Farisi hidup sangat saleh. Semua ahli Taurat sangat gemar membaca Alkitab dan mengajarkan Alkitab. Sepintar-pintarnya Saudara mengupas Perjanjian Lama, mereka lebih jago. Tapi ada satu yang tidak bisa mereka lakukan, apa itu? Bertobat. 

Mereka tidak mau bertobat. Bertobat bagi mereka aib dan memalukan. Bagi mereka itu mengancam reputasi dan jabatan rohani mereka. Itulah kekurangan mereka. 

Saudara mau hidup lebih dari orang Farisi dan ahli-ahli Taurat untuk masuk Sorga? Bertobatlah. Itu yang orang Farisi tidak mau lakukan. 

Jika pertobatan tidak lagi menjadi doktrin penting dalam gereja maka Takut akan Tuhanpun hilang dari gereja tersebut. Jemaat bahkan pemimpin gereja itu tidak takut lagi berbuat dosa di tempat tersembunyi.

2. Merintangi Orang Masuk Pintu Kerajaan Sorga

Bagaimana cara orang Farisi merintangi orang masuk pintu kerajaan sorga? Dengan membangun pagar-pagar yang tinggi sehingga orang lain tidak bisa memasukinya bahkan dirinya sendiri pun tidak bisa masuk. 

Seperti apa itu? Mari kita periksa ayat berikut ini:

 Lukas 18:11-12

11 Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;

12 aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.

Dari ayat ini ada dua pagar tinggi yang dibangun orang Farisi yang menyebabkan orang lain tidak bisa masuk Kerajaan Sorga bahkan dia sendiri tidak bisa masuk. 

1. Penghakiman

2. Standar lahiriah


Penghakiman

Orang Farisi gemar menghakimi orang-orang berdosa lewat khotbah-kotbah mereka. Bukan hanya orang berdosa yang dihakimi mereka tetapi juga semua orang lain yang tidak ikut agama mereka. Orang berdosa dan orang yang tidak mengenal Allah jadi terhalang masuk sorga karena penghakiman mereka. Mereka lakukan itu supaya mereka tetap superior. Ini adalah kesombongan rohani. Dan Yesus mengecam orang-orang munafik yang seperti ini yang menghukum orang lain tapi tidak memiliki belas kasihan. 

Saudaraku, lepaskan diri kita dari dosa Farisi ini. Bagaimana caranya? Hiduplah dengan belas kasihan kepada semua orang, maka kita akan terlepas dari dosa ini. Dari mana kita bisa dapatkan belas kasihan itu? Dari persekutuan kita dengan Kristus dalam penderitaanNya.

Standard Lahiriah

Orang Farisi memasang pagar tinggi-tinggi yaitu standard lahiriah yang tinggi sehingga orang sulit masuk Kerajaan Sorga.

Soal Kerajaan Sorga kita harus berpatokan pada ayat ini supaya jelas:

Roma 14:17
Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Lukas 17:20-21

20 Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,

21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."

Jadi kita lihat bahwa Kerajaan Sorga bukan soal makan minum dan bukan soal tanda-tanda lahiriah. Kerajaan Sorga adalah soal rohaniah yaitu soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Tetapi orang Farisi justru mempersoalkan makan minum dan hal-hal lahiriah. Untuk melegalisasi doktrin mereka ini mereka mengadopsi standard-standard lahiriah di Perjanjian Lama dengan ganjaran kutuk dan berkat. Mereka membuat kriteria kutuk dan berkat berdasarkan standard Perjanjian Lama yang menyebabkan orang-orang menyimpang dari kasih karunia Allah dan Keadilan Allah di Perjanjian Baru.

a. Mereka membuat aturan-aturan lahiriah, jangan jamah ini, jangan jamah itu. Orang yang melanggarnya terkutuk, orang yang mentaatinya diberkati.

Kolose 2:21-22

21 jangan jamah ini, jangan kecap itu, jangan sentuh ini; 

22 semuanya itu hanya mengenai barang yang binasa oleh pemakaian dan hanya menurut perintah-perintah dan ajaran-ajaran manusia.

b. Mereka membuat standard kutuk dan berkat berdasarkan kaya atau miskinnya seseorang. 

Mereka menghakimi orang di pikiran mereka berdasarkan materi yang dipunyai orang itu. Ini prinsip dunia terutama adat istiadat manusia yang memuji-muji orang kaya dan merendahkan orang miskin.

Ekstrim kanan mengatakan orang yang kaya itu terkutuk, yang miskin yang diberkati.

Ekstrim kiri mengatakan orang yang kaya itu diberkati, yang miskin yang terkutuk.

Yang mana yang benar? Dua-duanya salah. Tidak ada hubungan Kerajaan Allah dengan kekayaan materi seseorang. Tidak ada sama sekali.

Orang kaya dan orang miskin dua-duanya bisa masuk Kerajaan Sorga, dua-duanya dikasihi Allah, asalkan keduanya menjadi miskin di hadapan Allah secara rohaniah.

Matius 5:3  "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Tetapi tanggung jawab kepada orang kaya akan lebih banyak dituntut karena kepada mereka lebih banyak diberi. Karena itu kalau saudara kaya, jadilah orang kaya yang murah hati. Begitu juga kalau saudara miskin, jadilah orang miskin yang juga murah hati dalam memberi. Memberi tidak harus dalam bentuk uang tapi juga tenaga dan waktu Saudara sangat berharga menolong orang lain.

Lukas 12:48b Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut."

c. Mereka membuat standard kerohanian buatan sendiri. 

Kita ambil beberapa contoh berikut ini:

Orang yang hampir setiap hari keluar rumah pergi pelayanan dicap sebagai orang yang sungguh-sungguh atau orang yang saleh. Padahal tanggung jawab mereka sebagai suami atau isteri, sebagai orang tua atau anak di rumah terabaikan. Ini kemunafikan.

Orang-orang yang berbahasa roh atau berbahasa lidah dicap lebih rohani daripada yang tidak punya karunia tersebut. Standard ini sama sekali tidak ada di dalam Alkitab. Ini buatan manusia. Orang yang tidak memiliki karunia itu jadi merasa mereka dianaktirikan Allah, padahal bukan begitu.

Orang-orang yang berdoa menangis-nangis atau orang yang didoakan tumbang itu dicap sungguh-sungguh. Ini bukan standard Alkitab, tidak selalu harus begitu cara kerja Tuhan. Ini standard buatan manusia.

Orang yang memberikan prosentase tinggi dari pendapatan atau penghasilan mereka misalnya memberi tahu orang-orang 90 persen keuntungan atau penghasilannya buat Tuhan dicap rohani. Padahal belum tentu perhitungan nya seperti yang kita kira. Ada berbagai macam perhitungan keuangan yang bisa menghasilkan angka 90 persen. Banyak orang terjebak dalam angka-angka yang menyangka kerohanian dihitung dari angka-angka tersebut. Akibatnya mereka mencoba memanipulasi data supaya terlihat dirinya sangat bersungguh hati ikut Tuhan. Kita harus jujur soal statistik. Dan jangan sampai mengaitkan angka statistik dengan standard kerohanian. Ananias dan Safira mendustai Roh Kudus dengan menyebut mereka memberi 100 persen untuk Tuhan dari penjualan tanah mereka demi terlihat sungguh-sungguh di depan jemaat. Mereka mati di depan jemaat. Saudaraku hindari mengkait-kaitkan standard kerohanian dengan angka-angka statistik karena Saudara akan tergoda untuk memanipulasi nya. 

Dengan menaikkan standard lahiriah seperti itu, maka orang-orang yang tidak bisa mencapainya akan merasa terhukum. Dan orang yang merasa terhukum tidak bisa masuk Kerajaan Allah, karena di dalam Kristus tidak ada penghukuman lagi. Penghukuman atas diri sendiri atau merasa terhukum membuat kita berada di luar Kristus karena kita kehilangan iman. 

Roma 8:1  Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. 

Roma 14:22-23

22 Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan.

23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Apakah kita punya standard rohani dari  Tuhan Yesus? Ada. Yaitu 10 ucapan bahagia yang dikotbahkan Yesus di bukit.

(Bacalah Matius 5:3-12)

Saudara ku yang dikasihi Tuhan, kita harus mencegah orang menutup pintu Kerajaan Sorga dan mencegah orang merintangi orang lain masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Tuhan kiranya meneguhkan Saudara.

In His Grace

GDS




Comments

Followers