JALAN SALIB, JALAN MENUJU KEMULIAAN
Matius 20:17-19
17 Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan:
18 "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati.
19 Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan."
Ini adalah pemberitahuan ketiga Tuhan kita bahwa Dia akan diserahkan kepada para pemimpin agama Yahudi di Yerusalem dan dijatuhi hukuman mati. Dan Dia akan diserahkan kepada bangsa-bangsa asing yang tidak mengenal Allah untuk disiksa dan disalibkan.
Di antara pengajaran-pengajaranNya, Yesus empat kali menyisipkan pemberitahuan bahwa Dia akan mengalami penderitaan, disalibkan dan dibangkitkan dalam kemuliaan. Ini adalah kali ketiga.
Yesus semakin dekat ke Yerusalem. Bayang-bayang salib sudah mulai terlihat. Dan Dia harus memberitahu murid-muridNya bahwa saat penderitaan itu semakin dekat dan Dia mengajak murid-muridNya ke Yerusalem untuk mengikuti jejakNya di mana Dia berjalan di depan menuju Yerusalem.
Apa respon murid-muridNya? Kitab Matius tidak mencatatnya, tetapi kitab Markus menuliskannya:
Markus 10:32 Yesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya,
Respon murid-murid adalah mereka merasa cemas dan orang-orang yang mengikuti Yesus dari belakang merasa takut.
Ketakutan dan kecemasan menghadapi penderitaan adalah hal yang wajar. Itu sebabnya kita harus berdoa menyerahkan semua itu kepada Allah, Bapa kita di sorga ketika kita harus menghadapi suatu penderitaan yang harus kita alami, di mana integritas kita dituntut. Allah yang membela kita.
Bagaimana sikap Yesus, begitu juga sikap kita:
1 Petrus 2:23
Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
Roma 8:33 Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka?
Ketika kita menyerahkan semua itu kepada Allah maka ketakutan dan kecemasan kita bisa kita taklukkan.
Yesus tahu bahwa jalan salib adalah jalan yang ditetapkan Bapa untuk menuju kemuliaan, bukan hanya bagi Yesus tetapi bagi semua pengikut-pengikut Yesus. Pikiran Yesus dinaungi bayang-bayang salib, begitu juga dengan pikiran kita.
Yesus sudah mengajarkan kepada kita bagaimana cara menjadi yang terbesar dan yang terdahulu dalam Kerajaan Sorga. Kemuliaan Allah dinyatakan dalam hidup kita ketika kita memilih untuk hidup menjadi yang terbesar dan yang terdahulu dalam Kerajaan Sorga. Dan tanpa salib itu tidak mungkin.
Untuk itu kita harus mengikuti jejak Yesus Kristus:
1 Petrus 2:21
Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
Salib adalah jalan penyangkalan diri. Penyangkalan diri adalah suatu sikap yang menyatakan bukan kehendakku lagi, tapi kehendakMu ya Bapa.
Matius 16:24
Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Matius 26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki."
Karena itu kita rela kehilangan kenyamanan pribadi kita demi melayani orang lain. Kita mau melepaskan kesenangan dosa kita demi mempersembahkan tubuh yang kudus bagi Allah. Kita mau taat demi mengasihi Allah. Kita tidak lagi mementingkan diri kita sendiri demi Kerajaan Allah dan GerejaNya.
Bagaimana kita mendeteksi bahwa diri kita sedang berada di luar jalan salib? Mungkin ini bisa membantu kita untuk berbalik ke jalan salib:
- Ketika kenyamanan kita terganggu oleh orang lain, lalu kita marah-marah.
- Ketika kita dikritik, lalu kita tersinggung dan berdebat adu argumentasi membela diri.
- Ketika kita tahu harus berbuat baik menolong orang lain tetapi kita tidak melakukannya padahal kita mampu atau ketika kita harus mengambil inisiatif di saat yang lain cuek dan mementingkan diri mereka sendiri tetapi kita melewatkan kesempatan itu.
- Ketika kita takut mengakui di depan orang bahwa kita pengikut Yesus.
- Ketika pokok-pokok doa kita berpusat untuk memuaskan diri kita sendiri.
- Ketika kemalasan berdoa untuk bersekutu dengan Tuhan dan firman-Nya menguasai tubuh kita
Mungkin bisa kita tambahkan yang lain di sini.
Dengan menyadari hal di atas, kita tahu bahwa kita sedang tidak berada di jalan salib. Kita begitu egois. Ketika kita sadar akan hal itu, ketahuilah bahwa itu adalah waktu yang tepat bagi kita untuk berbalik kepada Allah, berdukacitalah, merataplah, karena hidup kita ternyata belum seperti yang Kristus inginkan, belum menjadi serupa dengan Dia.
Matius 12:19-20
19 Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan.
20 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.
Saudaraku, tempuhlah jalan yang sempit itu yaitu jalan salib. Memang betul itu jalan yang menyesakkan, tetapi hanya itu jalan menuju kemuliaan.
Matius 7:13-14
13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."
In His Grace
GDS
Comments
Post a Comment