MENJADI YANG TERBESAR DAN TERKEMUKA

Matius 20:24-28

24 Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. 

25 Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. 

26 Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu,

27 dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;

28 sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Kesepuluh murid yang lain marah kepada Yakobus dan Yohanes sesudah percakapan mereka dengan Yesus. Sepertinya mereka tidak bisa menerima cara Yakobus dan Yohanes memohon diberikan kursi pemerintahan bersama Kristus, lagipula dengan membawa ibu mereka turut serta. Terjadilah pertengkaran. Dan Yesus tahu semua murid-muridNya ingin duduk di sebelah kiri dan kanan Yesus dalam pemerintahanNya. Dan Yesus ingin menunjukkan jalannya.

Sebelumnya Tuhan kita sudah menunjukkan Salib sebagai jalan menuju kemuliaan melalui kematian dan kebangkitanNya. Dan Tuhan kita juga mengajarkan bahwa Bapa di sorga akan memberikan kursi pemerintahan bersama Kristus kelak di sorga bagi orang-orang yang sudah dipersiapkanNya di bumi. Ini adalah janji yang mulia. Ini adalah rahasia Bapa. 

Sekarang Tuhan kita mengajarkan cara menjadi yang terbesar di antara saudara-saudara yaitu dengan menjadi pelayan. 

Salib adalah jalan pengangkalan diri supaya kita bisa melayani tanpa dihalangi ego kita. Persekutuan rahasia dengan Bapa di sorga dimana kita menyembunyikan ibadah kita dari mata orang lain, akan membuat kita semakin rendah hati, dan kerendahan hati akan membawa hidup kita senantiasa di dalam kasih karunia. Kasih karunia akan memampukan kita untuk setia dan melayani dengan sukacita. 

Pelajaran apa yang diajarkan Tuhan kita?

1. Jangan memimpin dengan tangan besi.

"...pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi.Tidaklah demikian di antara kamu."

Tangan besi menunjukkan sikap arogansi dan menuntut orang lain taat atau tunduk. Kebanyakan orang setelah diberikan posisi jabatan dimana dia menduduki posisi itu tidak melalui proses seleksi rekam jejak melayani akan cenderung memimpin dengan tangan besi. Biasanya mereka sampai di posisi itu dengan cara-cara yang keras, licik, curang, menunggangi agama, atau belum siap untuk memimpin.

Orang Farisi memimpin dengan menduduki kursi Musa lalu memberikan beban-beban berat kepada orang lain sedangkan dia sendiri menyentuh beban itupun tidak. Posisi religius mereka membuat mereka bisa sewenang-wenang dan bertangan besi. Dan Yesus Kristus menentang mereka. (Matius 23:2,4)

Matius 23:4

4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Jika orang Farisi memimpin dengan memberikan orang beban-beban berat, Yesus Kristus malah kebalikan dari itu. Yesus Kristus memimpin dengan cara melepaskan orang-orang terlebih dahulu dari beban yang berat, baru kemudian memberikan kuk yang enak dan ringan dan juga mengajarkan orang cara memikul kuk tersebut. (Matius 11:28-30)

Matius 11:28

28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Kristus adalah teladan kita bagaimana memimpin dengan rendah hati dan lemah lembut, bukan dengan tangan besi. (Matius 11:29)

2. Memimpin dan Siap Dipimpin adalah Sama-sama Melayani.

"Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu;"

Ini adalah ajaran Tuhan Yesus Kristus yang telah menjadi dasar dalam kepemimpinan manajemen dan dalam bisnis dan penting dalam pemerintahan negara.

Dan prinsip ini pada mulanya adalah untuk kepemimpinan Gereja.

Tetapi meskipun kita belum dipercayakan tugas atau posisi untuk memimpin kita bisa mengambil inisiatif untuk melayani. 

Sebenarnya bukan hanya memimpin saja yang disebut melayani, tetapi memberi diri dipimpinpun adalah melayani. Ketika kita memberikan diri siap dipimpin, maka kita memposisikan diri sebagai hamba yang siap melayani pemimpin kita. 

Jadi memimpin dan memberi diri dipimpin adalah dua karakter dari seorang pelayan, dan ini jalan menuju yang terbesar dan terkemuka.

Jadi, saudara tidak harus mendapat posisi pemimpin dulu baru bisa melayani. Saudara memberi diri dipimpinpun adalah melayani. Saudara selalu setia pada kesepakatan, pada janji, setia dalam kehadiran, dan selalu bersedia membantu dan taat, itupun mentalitas melayani. 

Terbesar menunjukkan kepada kebesaran seorang pemimpin, sedangkan terkemuka artinya menonjol sebagai teladan di antara orang-orang yang dipimpin. Yang terbesar menjadi pelayan, yang terkemuka menjadi hamba. Tuhan Yesus ingin kita menjadi yang terbesar dan terkemuka.

3. Hidup untuk Melayani bukan untuk Dilayani

"sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani" 

Kebesaran hidup seseorang dimulai ketika dia memutuskan hidupnya adalah untuk melayani bukan untuk dilayani.

Di dunia ini ada dua kelompok manusia yaitu yang suka dilayani dan yang suka melayani. Saya tidak tahu saudara lebih suka yang mana. 

Ada kalanya kita perlu dan harus memberi diri kita untuk dilayani misalnya sebagai pengunjung rumah makan, sebagai pasien dokter, atau sedang ke tukang cukur rambut. Karena dokter, pelayan restoran, atau tukang cukur mungkin bukan panggilan kita. Tetapi di manapun kita berada, baik di Gereja, di rumah, di kantor, di tempat bekerja kita, kita selalu punya mentalitas pelayan, yaitu siap untuk melayani.

Tuhan Yesus berkata, lebih berbahagia memberi daripada menerima. Memberi tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi juga tenaga dan waktu. Kalau kita memilih untuk hidup melayani orang, kita akan menjadi orang-orang yang berbahagia. 

Kisah Para Rasul 20:35  Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima."

Mengapa seseorang sulit berbahagia? Karena orang itu lebih suka dilayani daripada melayani. Orang yang suka dilayani akan lebih sering komplein dan bersungut-sungut. Itu sebab mereka tidak bahagia. 

4. Melayani sesuai Panggilan Masing-masing.

Panggilan Tuhan adalah tugas spesifik yang diberikan Tuhan kepada seseorang yang harus dia kerjakan selama dia hidup di dunia ini sampai akhir hayatnya.

Apa panggilan Tuhan Yesus Kristus? Yaitu ini:

"dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang"

Panggilan Tuhan Yesus adalah memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang, yaitu menjadi Juruselamat Dunia, Penebus Manusia dari dosa. Tidak ada seorangpun manusia di dunia ini yang bisa meniru panggilan Yesus Kristus. Kitapun tidak bisa menebus manusia dari dosa. Kita manusia berdosa, tidak mungkin disalibkan untuk menjadi Juruselamat dunia. Panggilan Tuhan Yesus spesifik yang Bapa memang sudah persiapkan untuk AnakNya. Dan Yesus Kristus mengerjakan panggilanNya yaitu tugas yang harus Dia kerjakan sampai selesai di akhir hidupnya.

Bagaimana dengan panggilan kita? Panggilan kita masing-masing pun spesifik. Bila kita intim bersekutu dengan Bapa di sorga, maka Dia akan menyingkapkan panggilanNya dalam hidup kita dengan spesifik. Hanya diri kita yang bisa memenuhi panggilan itu jika kita mau. Tetapi jika kita menolak, Allah akan memakai orang lain. 

Saudaraku, temukanlah panggilan Tuhan dalam hidup saudara. Saudara tidak bisa memintanya dari orang lain. Dan jangan meniru panggilan orang lain karena saudara akan frustasi. Doa dan membaca firman Tuhan dengan setia akan menuntun saudara dalam panggilan Tuhan. Jika saudara sudah menemukan panggilan Tuhan dan bangkit mengejar panggilan itu, maka Tuhan akan membuat saudara mampu mengerjakannya dengan setia.

Ada banyak orang yang tidak menemukan panggilan Tuhan sepanjang hidup mereka. Mereka luntang-lantung di dunia ini tanpa tujuan. Sebagian lagi menghabiskan hidupnya dengan duduk-duduk sepanjang hari menunggu akhir ajalnya tanpa berbuat apa-apa. Sebagian lagi lari dari panggilan Tuhan karena dia punya cita-cita yang lain dan juga karena penyesatan. Itu karena mereka mengabaikan hubungan mereka dengan Bapa di tempat tersembunyi. Mereka kehilangan upah, hadiah dari Bapa, yaitu panggilanNya. Itu sebab mereka tidak mengejarnya.

Sikap rasul Paulus terhadap panggilan Allah bagi dirinya patut kita teladani:

Filipi 3:14
dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Orang yang hidup dalam panggilan Allah akan gigih mengejar panggilan itu. Di akhir hidup mereka, seperti Yesus  ketika Yesus akan mati, mereka akan berkata: "Sudah selesai, Bapa."

In His Grace

GDS

Comments

Followers