PERSEKUTUAN DALAM PENDERITAANNYA
Matius 17:22-23
22 Pada waktu Yesus dan murid-murid-Nya bersama-sama di Galilea, Ia berkata kepada mereka: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia
23 dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.
Ini adalah pemberitahuan kedua dari Yesus kepada murid-muridNya bahwa Dia akan diserahkan kepada manusia dan ditolak oleh pemimpin agama Yahudi lalu dibunuh dan bangkit lagi pada hari ketiga.
Ada empat kali sebenarnya Yesus mengatakan hal yang sama, dan ini adalah kali kedua.
Mengapa Yesus mengatakan berulang-ulang kepada murid-muridNya? Karena ini adalah pesan yang sangat penting. Yesus adalah satu-satunya manusia yang tahu bagaimana caranya dia akan mati kelak. Mengapa Dia tahu? Karena itu sudah ada dalam rencana BapaNya bahwa Dia harus menanggung hukuman dosa seluruh umat manusia dan juga menanggung penderitaan dunia ini. Dengan cara itulah keadilan Bapa ditegakkan bahwa Dia adalah Allah yang adil, yang menghukum dosa tetapi juga Allah yang berbelas kasihan, yang mengampuni dosa.
Tidak cukup satu kali Yesus mengatakan itu kepada murid-muridNya, ini juga untuk menyiapkan hati mereka menghadapi kenyataan penderitaan yang akan dihadapi sang Guru.
Pemberitahuan pertama, Simon Petrus gagal meresponnya sehingga Yesus menegurnya dengan perkataan "Enyahlah Iblis", karena Iblis berusaha menghilangkan penderitaan itu dari hidup Yesus. Kita tahu sebelumnya bahwa Iblis sudah menawarkan Yesus dunia dengan segala kemegahannya tetapi Yesus menolaknya.
Yesus, pria yang hidup dengan misinya ini, secara bertahap menyampaikan perihal penderitaanNya kepada murid-muridNya, semakin dalam, dan semakin dalam ke hati murid-muridNya, untuk menyiapkan hati murid-muridNya akan datangnya Kerajaan Allah disertai dengan penderitaan yang akan dihadapi mereka. Bahwa bangsa-bangsa di seluruh dunia akan bertekuk lutut di kaki Yesus melalui pemberitaan Injil ke seluruh dunia yang akan diberitakan murid-muridNya yaitu tentang penderitaan Yesus, kematianNya dan kebangkitanNya yang menanggung dosa dan penderitaan dunia ini. Akan genaplah ayat ini:
Filipi 2:9-11
9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Kali kedua pemberitahuan ini murid-murid merespon dengan benar, ayat diatas menulis:
Maka hati murid-murid-Nya itu pun sedih sekali.
Murid-murid mulai masuk ke dalam penderitaan Kristus. Mereka mulai sadar tujuan mereka mengikuti Yesus bukan lagi dengan tujuan duniawi, tetapi dengan tujuan surgawi, yaitu untuk menyelamatkan banyak orang melalui penderitaan Kristus dan juga untuk menegakkan Kerajaan Allah di bumi melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Tuhan akan memakai hidup murid-muridNya untuk menggembalakan bangsa-bangsa. Itulah sebabnya kekristenan masuk ke berbagai bangsa tidak dengan cara yang mudah, tetapi dengan mempertaruhkan nyawa murid-muridNya.
Saudaraku, sulit bagi kita untuk melayani Tuhan dengan hati yang benar, tulus dan berkorban untuk Injil jika kita tidak masuk ke dalam persekutuan penderitaan Kristus. Dan itu dimulai dari doa. Ketika kita berdoa, disitulah kita mengerti beban Tuhan dan juga mengerti penderitaan dunia ini. Di taman Getsemani Yesus berkata:
Matius 26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: "Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku."
Saudaraku, maukah saudara memberi waktu saudara berdoa di pagi hari, berjaga-jaga dengan Tuhan Yesus. Ketika saudara masuk ke dalam persekutuan penderitaanNya, Dia menyiapkan saudara untuk dipakaiNya, diutusNya untuk melayani banyak orang dan memberitakan Injil yaitu keselamatan yang sudah disediakanNya bagi setiap orang.
Sekali lagi, biarlah ucapan rasul Paulus ini bergema di hati kita:
Filipi 3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
In His Grace
GDS
Comments
Post a Comment