BARANG SIAPA MENCERAIKAN ISTERINYA KECUALI KARENA ZINAH
Matius 19:7-10
7 Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?"
8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."
10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."
Kita sampai di ayat yang menjadi perdebatan sampai sekarang yaitu ucapan Yesus tentang perceraian kecuali karena zinah.
Pada masa ketika percakapan ini terjadi, di Israel ada dua sekolah teologia Yahudi yang besar di mana keduanya memiliki banyak perbedaan doktrin yang selalu diperdebatkan, yaitu Sekolah Hilel dan Shammai (bisa dibaca di Wikipedia). Salah satu perbedaan doktrin adalah tentang perceraian.
Hilel mengajarkan bahwa perceraian diperbolehkan jika isteri kedapatan melakukan pelanggaran serius atau berat.
Shammai mengajarkan bahwa perceraian diperbolehkan jika suami tersinggung meskipun karena soal-soal sepele seperti masakan isteri tidak enak, atau isteri kurang mengurus diri.
Pada masa Tuhan Yesus lahir di Betlehem sampai masa sekarang kita hidup orang Yahudi memiliki tradisi pertunangan (engagement). Pertunangan dalam tradisi Yahudi adalah masa penyesuaian mental spiritual yang diikat dengan kontrak tertulis (tenai) di mana pria dan wanita tersebut sepakat akan menikah kelak dengan waktu yang ditentukan. Pada masa pertunangan ini kedua pasangan menyatukan visi rohani mereka dan juga rencana dan nilai-nilai moral yang akan mereka bangun dalam keluarga. Biasanya mereka dibimbing oleh seorang rabi untuk diajarkan ajaran-ajaran Taurat dan tradisi Yahudi. Tidak ada kesatuan seksual pada masa ini. Mereka betul-betul menjaga kesucian mereka, karena pertunangan adalah sesuatu yang sakral dan suci bagi tradisi orang Yahudi. Ini contoh yang bagus juga untuk persiapan pernikahan Kristen. Pada masa pertunangan ini jika ada di antara pasangan yang kemudian bimbang dengan pilihannya, atau salah satu kedapatan selingkuh, maka perceraian boleh dilakukan. Pada masa pertunangan, meski mereka belum resmi menikah dengan dipestakan, mereka sudah disebut suami dan isteri meski belum resmi sebagai suami dan isteri.
Contoh yang jelas adalah ayah dan ibu Yesus sendiri, Yusuf dan Maria ketika malaikat Gabriel mendatangi Maria, mereka dalam status pertunangan.
Matius 1:18 Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
Pada masa pertunangan mereka Yusuf mendapati Maria hamil. Tentu Yusuf sebagai laki-laki akan kecewa dan dia dalam tradisi Yahudi boleh menceraikan Maria di depan tua-tua Israel. Tetapi Yusuf adalah laki-laki yang gentle, dia tidak ingin mempermalukan Maria, karena itu dia berniat akan menceraikan Maria diam-diam.
Matius 1:19 Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.
Perhatikan di ayat di atas, meski mereka dalam status pertunangan, Yusuf sudah disebut suami Maria, dan Maria isteri Yusuf.
Tetapi malaikat Tuhan muncul mencegah Yusuf.
Matius 1:20 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.
Setelah diberitahu malaikat maka Yusuf pun bertindak:
Matius 1:24-25
24 Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya,
25 tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.
Yusuf lalu mengambil Maria sebagai isterinya secara resmi tapi dia tidak bersetubuh dengan Maria sampai Maria melahirkan Yesus.
Jadi dalam masa pertunangan, pasangan pria dan wanita Yahudi boleh bercerai, dan Yesus tahu itu, Yesus setuju dengan itu.
Apakah yang dimaksud oleh Yesus kecuali karena zinah?
Mari kita periksa ayat yang dimaksud:
Menurut versi Terjemahan Baru LAI:
Matius 19:9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."
Menurut versi King James:
Matthew 19:9 And I say unto you, Whosoever shall put away his wife, except it be for fornication, and shall marry another, committeth adultery: and whoso marrieth her which is put away doth commit adultery.
Yesus tidak menyebut kecuali karena adultery, tetapi kecuali karena fornication. Orang Farisi mengerti itu, dan murid-murid Yesus juga mengerti itu. Kita yang kurang paham sehingga sering bingung dan berdebat mencari pembenaran.
Fornication di Alkitab LAI kadang diterjemahkan sebagai percabulan dan kadang sebagai perzinahan. Itu sebab dalam pikiran kita seolah itu sama, padahal berbeda.
Fornication atau percabulan adalah hubungan seksual atau aktivitas seksual antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah atau seks pra nikah. Fornication bisa terjadi dalam masa pertunangan atau ketika masih belum menikah.
Adultery atau perzinahan adalah hubungan seksual antara laki-laki dan perempuan yang salah satu atau keduanya sudah terikat dalam sebuah pernikahan dengan orang lain. Adultery hanya terjadi sesudah seseorang sudah menikah.
Yusuf boleh menceraikan Maria karena Maria hamil di masa pertunangan mereka. Itu yang dimaksud Yesus kecuali karena zinah (fornication).
Orang Farisi ketika berdebat dengan Yesus soal asal usul Yesus. Mereka tahu Maria mengandung Yesus ketika bertunangan, itu sebab mereka menyindir Yesus dengan mengklaim diri mereka bukan anak hasil zinah (fornication).
Yohanes 8:41
Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri." Jawab mereka: "Kami tidak dilahirkan dari zinah (fornication). Bapa kami satu, yaitu Allah."
Jadi yang Yesus maksudkan adalah perceraian dalam masa pertunangan (masa yang sakral dan suci bagi pasangan yang akan menikah) itu diperbolehkan. Sedangkan perceraian sesudah menikah bila menikah lagi disebut Tuhan sebagai perzinahan.
Ketika Yesus mengatakan bahwa orang yang bercerai kecuali karena zinah (fornication) terus menikah lagi dianggap Tuhan sebagai berzinah (adultery), bukan hanya orang Farisi yang terkejut, bahkan murid-murid Yesuspun, yang mewakili kita orang-orang Kristen pun terkejut. Yesus berkata dengan kuasa otoritas di atas ajaran Hilel dan Shammai, ini membuktikan Dia adalah Allah yang berdaulat, Perencana awal pernikahan. Dan seketika itu juga bagi murid-murid Yesus, pernikahan menjadi sesuatu yang menakutkan. Itu sebab mereka berkata:
Matius 19:10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin."
Artinya bagi murid-murid Yesus, lebih baik jangan kawin jika tidak boleh cerai sesudah menikah. Apa yang dikatakan murid-murid, bukankah itu juga yang dikatakan banyak orang Kristen di seluruh dunia? Apalah arti sebuah akte nikah, kata banyak muda mudi yang ingin bebas. Itu sebab banyak pasangan muda-mudi di negara yang mayoritas Kristen tidak mau menikah, mereka tidak mau terikat. Kumpul kebo menjadi pilihan mereka. Ada juga yang memilih membujang karena takut menikah.
Perceraian dianggap banyak orang sebagai pintu darurat seperti di pesawat terbang. Menakutkan jika pesawat terbang tidak ada pintu darurat. Seandainya Yesus mengijinkan perceraian karena adultery (zinah) tentu murid-murid akan senang karena ada pintu darurat. Tetapi faktanya Yesus meniadakan pintu darurat yang mereka inginkan itu. Dan itu menakutkan bagi murid-muridNya.
Kalau tidak ada pintu darurat dalam pernikahan, buat apa kawin. Kira-kira begitu tanggapan murid-murid Yesus. Bukankah banyak orang Kristen juga berpendapat sama?
Saudaraku, betulkah Tuhan Yesus meniadakan pintu daruratnya? Yesus tetap memberikan pintu darurat, yaitu dengan cara menggantinya. Yesus berkata:
Yohanes 10:9
Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.
Yesus menyediakan DiriNya sebagai pintu darurat dalam pernikahan kita dengan pasangan kita. Perceraian bukanlah pintu darurat pernikahan Kristen, tetapi Yesuslah pintu daruratnya.
Ketika rumah tangga saudara dalam krisis yang menakutkan, satu-satunya tempat pelarian kita adalah Yesus Kristus. Larilah kepadaNya. Curahkanlah isi hati saudara kepada Nya. Jangan keraskan hati saudara. Pandanglah kepada Yesus Kristus. Dialah kepala tertinggi dalam rumah tangga saudara. Mintalah kasih karuniaNya, pengampunanNya, kekuatanNya, kasihNya, hikmatNya, jalan keluarNya. Jika saudara hancur hati, tidak mungkin Dia tidak menjawab.
Saudaraku alamilah kasih Tuhan Yesus Kristus yang mengasihi saudara. KasihNya jauh melebihi kasih manusia termasuk pasangan kita.
Kalau demikian, mengapa ada hamba Tuhan yang bercerai? Yesus katakan hanya satu saja alasan mengapa orang tetap bercerai, yaitu karena ketegaran hati atau kekerasan hati. Itu saja sebabnya.
Matius 19:8 Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian.
(Dalam kondisi kekerasan hati seperti ini, maka Gereja sebagai institusi Allah harus menarik diri dari masalah ini. Biarlah hukum negara yang memfasilitasinya. Kita tetap menghormati hukum negara meski kita berdukacita.)
Tuhan kiranya memberkati saudara.
In His Grace
GDS
Comments
Post a Comment