MEREKA BUKAN LAGI DUA, MELAINKAN SATU

Matius 19:1-6

1 Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan.

2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Ia pun menyembuhkan mereka di sana. 

3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 

5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Setelah Yesus selesai dengan pengajaranNya itu (perhatikan frase ini) lalu Yesus berangkat dari situ ke Yudea di seberang sungai Yordan. Ini bukanlah suatu kebetulan, tapi semua dalam rancangan Tuhan sejak semula untuk Injil, karena ada topik pengajaran yang Dia ajarkan yang harus dalam bentuk kotbah, ada yang harus dalam bentuk tindakan untuk diteladani, tapi ada juga yang harus dalam bentuk percakapan. Bagi kita seolah itu suatu kebetulan. Tapi bagi Tuhan tidak, itu semua sudah direncanakanNya di mana Dia akan mengajarkan soal pernikahan dan perceraian di seberang sungai Yordan di Yudea melalui sebuah percakapan atau dialog.

Sungai Yordan melambangkan sungai kematian, karena disitulah batas hidup lama dan hidup baru dan sungai itu pun akan berakhir di Laut Mati. Laut Mati adalah permukaan air paling rendah di dunia ini, yaitu 394 meter di bawah permukaan laut. Di sungai inilah Yohanes Pembaptis membaptis orang-orang yang baru bertobat dan masuk ke dalam hidup yang baru. Baptisan artinya di kubur. Hidup lama kita sudah mati disalibkan lalu kita dikuburkan secara simbolik melalui baptisan untuk memasuki hidup baru. 

Setelah Yesus menyelesaikan pengajaranNya tentang berharganya anak-anak bagi Allah, tentang penyesatan, tentang menegor saudara, tentang doa dua orang yang sepakat, dan tentang pengampunan, maka Tuhan melanjutkannya ke pengajaran lanjutannya dengan berpindah tempat. Ibarat berpindah ruang kelas. Tuhan kita mulai masuk ke pengajaran tentang keluarga, pernikahan dan perceraian. Sebenarnya ini lanjutan pengajaran sebelumnya. 

Untuk masuk ke dalam pernikahan, seseorang harus menyayangi anak-anak dan menjadi seperti anak-anak di dalam Kerajaan Allah. Lalu dia harus sadar bahwa dia butuh penolong atau partner karena dia sendiri punya kelemahan dan dia juga harus tahu pasangan nya pun punya kelemahan. Lalu dia harus tahu bagaimana menegor saudaranya empat mata dengan tujuan untuk mendapatkan pasangan nya kembali. Dia harus punya kerinduan memiliki keluarga yang berdoa dan keluarga yang bergabung dalam kumpulan jemaat lokal di mana Kristus hadir. Dan orang itu juga harus mempersiapkan diri sebelum menikah dengan hati penuh pengampunan yang tidak terbatas, yang luas, segenap hati untuk pasangannya. Dengan persiapan pengajaran itu dia akan siap memasuki pernikahan. 

Ketika Yesus sedang menyembuhkan orang-orang yang sakit di tengah kerumunan orang banyak, datanglah orang Farisi dengan pertanyaan menjebak Dia. Dan peristiwa ini harus dicatat di dalam Injil sebagai bagian dari pengajaran Yesus. Orang Farisi bertanya:

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

Mereka menanyakan ini karena mereka mengajarkan topik yang mungkin jadi perdebatan juga, bukan hanya di zaman mereka tapi juga zaman sekarang ini. Orang Farisi itu bertanya berdasarkan kutipan kita Ulangan yaitu:

Ulangan 24:1  "Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, 

Apakah jawab Yesus?

4 Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 

Yesus menjawab bukan dari kitab Ulangan tapi dari kitab Kejadian, di mana segala sesuatu di dunia ini bermula termasuk rumah tangga. Kalau orang Yahudi percaya kitab Ulangan, seharusnya mereka juga percaya kitab Kejadian. Begitu juga dengan kita. Kita sering sekali memegang ayat yang satu tapi mengabaikan ayat yang lain. Itu sebab terjadi perdebatan. Inilah yang bisa menyesatkan kita, sehingga kita tidak mengerti maksud Allah. 

5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Yang dikutip Yesus dari kitab Kejadian:

Kejadian 1:27  Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 

Kejadian 2:24  Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 

Yesus merekonstruksi kembali tujuan diciptakannya lembaga keluarga oleh Allah. Sejak semula Allah Bapa, Anak (Yesus sendiri) dan Roh Kudus adalah Perencana Agung dari Pernikahan. Yesus menegaskan bahwa pernikahan yang dimaksud Allah adalah pernikahan antara laki-laki dan perempuan, karena seksualitas laki-laki dan perempuan memang dirancang Allah untuk bisa menjadi satu daging (intercourse) dan juga hanya kesatuan fisik pria dan wanita yang bisa menghasilkan keturunan seperti yang dikehendaki Allah. 

Dan Allah juga yang memberkati laki-laki dan perempuan menjadi suami isteri sehingga keduanya menjadi satu daging dan Tuhan memberkati mereka supaya mereka beranak cucu memenuhi bumi supaya kemuliaan Allah memenuhi bumi. Jika Allah sudah memberkati mereka dan menjadikan mereka satu, maka usaha manusia memisahkan mereka kembali sebenarnya penolakan terhadap rencana Allah semula. Dan itu memilukan hati Tuhan. Itu ibarat seorang anak menolak berkat dari ayahnya. 

Tujuan Allah bagi kita umatNya melalui pernikahan adalah untuk menyatakan kemuliaanNya melalui hidup kita. Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya. Dengan menghadirkan suami atau isteri yang penuh kekurangan dalam hidup kita, Allah sebenarnya sedang menajamkan kita, membentuk kita untuk berubah segambar dengan Allah, yaitu serupa dengan Kristus. Itu sebabnya penting bagi kita memahami kesatuan suami isteri itu seperti kesatuan Kristus dengan jemaat, yaitu kesatuan sang Kepala dengan sang Tubuh menjadi satu. 

Suami atau isteri adalah berkat Allah bagi kita untuk mengubah kita. Pasangan kitalah yang pas untuk dipakai Allah mengubah hidup kita seperti Kristus seburuk apapun mungkin dia dalam pandangan kita.

Suami yang bercerai itu ibarat kepala terbang tanpa tubuh. Isteri yang bercerai itu ibarat tubuh berjalan tanpa kepala. Bagaimana mungkin kemuliaan Tuhan terpancar dengan bentuk seperti itu? Apakah perceraian bisa menghasilkan kemuliaan bagi Allah?

Karena itu Tuhan Yesus berkata:

6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."

Tujuan Allah mempersatukan suami isteri adalah seperti menyatukan tubuh dan kepala untuk mengekspresikan Kristus dan Jemaat yang adalah pancaran kemuliaan Allah. Tetapi manusia mencoba memisahkannya. Ini bertentangan dengan tujuan Allah sejak semula apapun alasannya. 

Tujuan kesatuan suami isteri adalah keturunan ilahi, yaitu anak-anak yang memancarkan kemuliaan Tuhan ke seluruh bumi. Keturunan ilahi inilah yang disebut dengan Gereja atau jemaat. Dengan demikian keluarga adalah lembaga terkecil pembentuk Gereja.

Maleakhi 2:15  Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh? Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya.

Perceraian selalu menimbulkan luka, bukan hanya bagi pasangan suami isteri, tetapi juga bagi anak-anak mereka. Bukan hanya bagi keluarga itu tapi itu juga mendukakan, memilukan hati Allah. 

Perceraian itu menutup pintu bagi pemulihan keluarga. Pemulihan selalu ada. Tuhan selalu punya cara meluluhkan hati yang keras. Tapi perceraian menutup pintu bagi pemulihan itu. Dan menikah kembali dengan orang lain ibarat menguncinya dengan gembok lalu membuang anak kuncinya ke sungai. Kita butuh anugerah Tuhan yang luar biasa untuk memulihkan keluarga yang seperti ini.

Saudaraku pertimbangkanlah semua ini. Saudara bebas melakukan apa  saja. Tuhan tidak memaksa. Apakah tujuan hidup saudara ingin serupa atau segambar dengan Kristus? Pertahankanlah rumah tangga saudara, sedahsyat apapun badai melanda. Serahkanlah kemudi nakhoda kapal rumah tangga saudara kepada Yesus  Jangan keluar dari gelanggang pertandingan. Jangan jadi pecundang dalam Kerajaan Allah  Karena melalui tekanan dalam rumah tangga, Tuhan akan pakai itu untuk membuat hati kita lembut penuh kasih dan pengampunan seperti Kristus. Kalau kita memiliki iman seperti ini, kita akan bisa membangun taman Eden bersama keluarga kita yaitu sorga di bumi. 

Buang kata 'cerai' dari kamus perkataan kita dengan pasangan kita. Sungai Yordan melambangkan sungai kematian. Dalam hidup berumah tangga, kita harus mengalami kematian bagi kepentingan diri kita sendiri untuk bisa hidup bagi orang lain dan bagi Tuhan. 

Keluarga adalah sekolah bagi kita untuk mempraktekkan ajaran Kristus mulai dari mengasihi anak-anak kecil, rendah hati, bertobat, berhati-hati terhadap penyesatan, kekudusan tubuh, menegor empat mata, berdoa sepakat, menikmati Kehadiran Kristus dalam keluarga Allah, dan mengampuni tanpa hitung-hitungan, tanpa mengingat-ingat, sempurna dalam hati. Kita akan bertumbuh dewasa ke arah Kristus.

Kiranya kasih karunia Tuhan Yesus akan menguatkan saudara. 

In His Grace

GDS


Comments

Followers