MULUT KITA ALAT UKUR HATI KITA

Matius 15:11 "Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang."

Bacaan: Matius 15:10-20

Alkitab menyatakan ada beberapa alat ukur kondisi hati kita. Mengapa alat ukur itu penting? Karena tidak ada seorangpun tahu kondisi hati dan pikiran seseorang, hanya Tuhan yang tahu. Bahkan seringkali orang yang bersangkutan pun tidak tahu kondisi hatinya. Itu sebabnya dibutuhkan alat ukur kondisi hati.

Sama halnya seperti termometer sebagai alat ukur temperatur tubuh dan tensimeter sebagai alat ukur tekanan darah kita, itu kita perlukan karena kita kesulitan memastikan berapa suhu orang yang sakit dan berapa tensi orang yang menderita tekanan darah tinggi. Kita mungkin mencoba menebak-nebak tapi itu tidak akan akurat.

Tapi Tuhan sudah memberikan alat ukur kondisi hati seseorang yaitu mulutnya. Kitab Amsal bahkan menambah mata dan air muka seseorang sebagai indikator kondisi hati. 


Amsal 6:13 yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari,

Amsal 15:13 Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.

Amsal 6:17 mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, 

Kembali ke mulut, mulut kita mengukur dengan presisi hingga detail pikiran seseorang. 

Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak mengerti kebenaran ini demikian pula semua orang yang hidup dengan kemunafikan agamawi. Dan kebenaran ini menjadi batu sandungan bagi mereka karena kedok mereka terbuka.

Jika perkataan seseorang najis itu karena hati seseorang itu najis. Jika perkataan seseorang Kudus itu karena hati mereka Kudus. Jika perkataan seseorang berbelit-belit itu karena orang itu penuh tipu daya. Jika perkataan seseorang lurus, itu karena hati orang itu lurus. Kesombongan dan kerendahan hati pun dapat dinilai dari perkataannya.

Jika kita berjalan bersama-sama Kristus maka Tuhan Yesus akan membereskan lebih dulu tutur kata kita. Perlu pertobatan dari kita untuk setiap kata-kata yang sia-sia.

Kunci dari perubahan tutur kata kita adalah kerendahan hati dan kelembutan hati kita. Dan itu dihasilkan dari pertobatan. Bertobat dari setiap kali kita berkata najis, sombong, bohong, kasar, menyakitkan orang lain, arogan, membuka aib orang lain, dan seterusnya. Tuhan akan menolong kita berubah. 

Itu sebabnya Raja Daud berkata:

Mazmur 141:3 Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!

Mari kita benahi perkataan kita dengan kasih Kristus yang melimpah dari hati kita.

In His Grace

GDS

Comments

Followers