FARISI-8# MEREKA MENELAN RUMAH JANDA-JANDA DAN MENGELABUI ORANG DENGAN DOA MEREKA

Matius 23:14  Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Jika kita ingin seperti Yesus maka kita harus menyingkirkan sifat Farisi dari hidup kita. Renungan kali ini membawa saya sendiri ke dalam pertobatan karena saya menemukan ada sifat Farisi dalam hidup saya yaitu mengajarkan tapi tidak melakukan apa yang kita bahas berikut ini. 

Apa itu Menelan Rumah Janda-janda?

Apakah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini adalah monster raksasa yang bisa menelan rumah janda? Tentu tidak. Ini gaya bahasa hiperbolik dari Tuhan Yesus. Kalau begitu apa artinya?

Saudara jangan takut mempelajari kata-kata yang diucapkan Tuhan Yesus, karena kata-kata Tuhan Yesus bukan untuk menakut-nakuti Saudara tetapi untuk mengajarkan Saudara hidup penuh belas kasihan kepada orang lain. Hanya orang munafik yang takut membahas ini.

Untuk memahami arti menelan rumah janda-janda kita membutuhkan Alkitab untuk menjelaskan ini. Ada ayat paralel yang menjelaskannya yaitu di Injil Markus dan Injil Lukas. 

Markus 12:40  yang menelan rumah janda-janda, sedang mereka mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka ini pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."

Lukas 20:47  yang menelan rumah janda-janda dan yang mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Mereka itu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."

Kedua ayat paralel ini diikuti oleh sebuah peristiwa yang menjelaskan arti menelan rumah janda-janda, yaitu peristiwa persembahan janda miskin. 

Markus 12:42  Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 

Lukas 21:2  Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. 

Janda miskin ini tidak punya suami lagi di mana suaminya sebelumnya adalah tulang punggung keluarganya. Setelah suaminya tidak ada lagi maka dia harus menghidupi anak-anaknya. Tentu mencari pekerjaan yang berpenghasilan memadai sulit bagi seorang janda. Bisa buruh cuci, pembantu rumah tangga, yang penghasilannya hanya dua peser perhari. Satu-satunya yang dia miliki hanyalah rumah peninggalan suaminya. Dan karena janda ini yang tentunya rajin beribadah dan menerima pengajaran dari ahli-ahli Taurat dan orang Farisi bahwa kalau memberi banyak buat Tuhan maka Tuhan akan senang dan Tuhan baru memberkati dia jika dia memberi dengan rasa sakit berkorban, maka dari itu dia memberi seluruh nafkahnya. 

Memberi seluruh nafkah?

Pertanyaan yang perlu kita jawab: Apakah kita pernah memberi seluruh nafkah kita atau seluruh gaji kita ke kantong persembahan di gereja?

Kalau belum pernah, mengapa kita mengajarkannya menjadi doktrin? Kita tidak melakukan tetapi kita mengajarkannya, bukankah ini munafik?

Mungkin kita menjawab: karena Yesus mengajarkannya. 

Betul Yesus mengajarkannya, tetapi bukan dalam konteks menyuruh kita memberikan semua nafkah kita? Itu hanya ada di dalam imajinasi kita, bukan di Alkitab. Yesus tidak pernah menyuruh kita melakukan itu.

Yesus hanya mengatakan bahwa: 

Markus 12:43  Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

Lukas 21:4  Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."

Yesus menghargai apa yang diberikan janda itu lebih daripada orang-orang kaya di situ, tetapi Yesus tidak pernah menyuruh atau menuntut itu dari janda miskin itu mempersembahkan seluruh nafkahnya, melainkan orang Farisi lah dan ahli-ahli Taurat lah yang mengajarkan itu. Jauhlah dari Tuhan Yesus menyuruh orang miskin mempersembahkan seluruh nafkahnya.

Dengan melihat peristiwa itu, murid-murid Yesus tidak bertanya lagi soal apa arti menelan rumah janda-janda, karena mereka sudah mengerti maksudnya.

Murid-murid langsung mencoba memahami peristiwa itu di dalam pikiran mereka dengan kritis. Mereka tentu bertanya dalam hati, sama seperti pertanyaan kita: "Sesudah pulang, janda itu dan anaknya makan apa?" Kita bisa saja menjawab dengan gampang: "Tuhan yang mencukupi." Kalau Tuhan yang mencukupi, bagaimana mungkin Tuhan Yesus mengatakan bahwa rumah janda-janda seperti ini ditelan oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat? 

Janda itu pulang tentu bisa jadi tidak makan hari itu. Kemungkinan lain dia akan mengemis minta makan ke tetangga. Kemungkinan lain dia akan berhutang kepada orang kaya. Dan bisa jadi dia berhutang kepada pemimpin agama nya yaitu orang-orang Farisi yang hamba-hamba uang itu. Bisa juga dia terpaksa menggadaikan rumahnya.

Hutang yang menumpuk makin mencekik leher si janda miskin. Maka mau tidak mau rumahnya harus disita oleh penagih hutang, bisa itu seseorang yang kaya, bisa jadi juga  orang-orang Farisi itu, yang juga adalah hamba uang. Mereka akan menyitanya dengan asas legalitas hukum. Si janda itu akhirnya kehilangan rumahnya. Itulah yang dimaksud dengan menelan rumah janda-janda.

Lukas 16:14
Semuanya itu didengar oleh orang-orang Farisi, hamba-hamba uang itu, dan mereka mencemoohkan Dia. 

Itu sebabnya Tuhan Yesus mengatakan rumah janda-janda seperti itu ditelan oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat melalui pengajaran atau doktrin mereka yang menyebabkan janda itu sering sekali memberikan seluruh nafkahnya ke Bait Allah. 

Jika janda itu tidak memberikan atau memberi sedikit saja persembahan maka dia takut kena kutuk dan merasa terhukum. Ajaran soal persembahan yang membuat orang merasa tertuduh atau terhukum, yang menyebabkan orang miskin menjadi berhutang, ini yang ditentang Tuhan' Yesus.

Tragis memang.

Saudaraku yang kukasihi dalam Tuhan, jika Saudara tetap berkeras ingin mengajarkan dan mengkotbahkan bahwa persembahan janda miskin itu yang memberi seluruh nafkahnya patut kita contoh, saran saya Saudara dulu yang memberi contoh. Persembahkanlah seluruh gaji Saudara ke gereja dan juallah seluruh harta Saudara, rumah Saudara, dan masukkan uangnya ke  kantong persembahan gereja atau transfer ke rekening gereja, dan jangan mengambil lagi uang itu dan bunganya dengan cara apapun, supaya persis dengan janda miskin itu yang memberi seluruh nafkahnya tanpa mengambilnya kembali, dan yang memberi dari kekurangannya dan bukan dari kelimpahannya, sesudah itu silahkan saudara mengajarkan orang lain melakukan hal yang sama.

Bagi saya pelajaran yang penting dari persembahan janda miskin itu adalah bahwa Tuhan tidak melihat besar kecilnya persembahan kita, tetapi Dia melihat hati kita. 

Hati memberi seperti apa yang Tuhan inginkan dari kita? Mari kita lihat Alkitab kita:

2 Korintus 9:7
Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

Kita bisa ambil poinnya:

1. Memberi dengan kerelaan hati

2. Memberi dengan sukacita

3. Tidak dengan sedih hati

4. Tidak karena paksaan

Tuhan tidak pernah ingin kita memberi dengan perasaan tersakiti, tersiksa, terpaksa, dan terhukum. Tidak pernah ada orangtua yang begitu kepada anak-anaknya. Dia ingin kita memberi dengan kerelaan hati dan dengan sukacita. Dia Bapa yang senang jika anakNya memberi dengan senang hati. 

Apakah saudara senang jika ada teman Saudara memberi sesuatu kepada Saudara dengan perasaan terpaksa? Tentu tidak. Allahpun tidak. Kita ingin orang memberi kepada kita dengan ikhlas dan senang hati.

Kalaupun ada orang yang miskin ingin memberi kepada Tuhan yang kita tahu melebihi kemampuan mereka, dan dia memang rindu untuk memberi untuk pekerjaan Tuhan, kita menerimanya asalkan kita tidak memaksa atau mendoktrin mereka bahwa Tuhan ingin persembahan yang besar nilainya dan kita tidak membuat mereka sedih dengan persembahan mereka. Kita juga tidak mau mereka sampai tidak makan atau berhutang karena itu. Harus ada suasana kerelaan hati dan sukacita dalam memberi. Harus ada belas kasihan dari kita pelayan Tuhan. Itu yang menyenangkan hati Tuhan.

2 Korintus 8:1-3

1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.

2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.

3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 

Mereka Mengelabui Orang dengan Doa-doanya yang Panjang.

Orang Farisi pintar mengelabui orang dengan doa-doanya yang panjang. Mereka berdoa panjang-panjang karena ingin orang menyangka doanya doa orang yang saleh dan didengar oleh Allah. Padahal mereka suka berdoa hanya untuk dilihat orang. Ketika tidak dilihat orang mereka tidak berdoa, ataupun jika mereka berdoa, mereka akan berdoa pendek saja. 

Matius 6:5
"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.

Matius 6:7  Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.

Semakin banyak kita berdoa di tempat tersembunyi yang tidak dilihat orang, semakin mengerti dan peka kita kalau kita berdoa terlalu panjang di depan umum akan membuat orang lain kesal menunggu kita selesai berdoa. Orang Farisi tidak punya kepekaan seperti itu karena mereka sedikit atau tidak berdoa sama sekali di kamar pribadinya. 

Dengan berdoa panjang-panjang, orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini berharap orang lain percaya kepada apapun ajaran mereka dan menganggap mereka hamba Allah. Janda miskin adalah satu dari banyak orang yang percaya bahwa kalau mereka memberi banyak persembahan kepada para pemimpin agama yang rajin berdoa ini maka mereka akan diberkati dan dikasihi Tuhan. Tidak ada prinsip ini dalam Alkitab. Orang-orang yang berhasil dikelabui oleh doa orang Farisi dan ahli-ahli Taurat ini percaya bahwa doa orang Farisi dan ahli-ahli Taurat inilah yang didengarkan Tuhan.

Saudaraku yang dikasihi Tuhan. Marilah kita tulus berdoa di depan orang sama seperti kita tulus berdoa kepada Allah secara pribadi di kamar kita. Bukan hanya doa pemimpin agama yang didengarkan Tuhan, siapapun yang berseru kepada Allah termasuk diri Saudara akan didengar oleh Tuhan.

Memberi persembahan kepada pengkotbah atau pendeta itu baik. Tetapi jangan sampai kita memberi karena kita menganggap hanya doa mereka saja yang didengar oleh Tuhan. Tuhanpun mendengar doa Saudara. Kita memberi persembahan karena mereka sudah berjerih payah mengajarkan firman Tuhan kepada jemaat.

Galatia 6:6
Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.

In His Grace

GDS

Comments

Followers